Halaman

Selasa, 28 Februari 2017

Sayang

malam dan siang selalu terpisahkan.
mentari dan rembulan tak pernah bergandengan.
perihal waktu, mereka akan dipertemukan.

kelak, saat tiba waktunya kehancuran.

malam ini angin berhembus tidak terlalu kencang.
sesekali udara menjadi sedikit basah, terkena bias embun.
eh, entah bercak hujan atau embun susah di bedakan.

suasana di sekeliling begitu remang, mataku tak menemukan sedikitpun kehidupan.
terkadang beberapa bias rintik hujan menyentuh kaki dan membasahi baju merahku.
suara gemericik dan guntur seolah bersautan.
ini bukan tentang kesedihan atau kemarahan.

seolah mereka tau apa yang sedang aku rasakan.

sesekali aku merasa tak sendiri malam ini,
mereka sedang berbicara, seperti sudah lama tak bersua.

"krekk..... krekkk..... kreeekkk....."
samar samar aku mendengar decitan besi tua.
angin malam ini turut bermain ayunan dengan gembira.
beberapa mainan anak anak terlihat bergoyang, kecuali jungkat jungkit yang berada tepat di hadapanku.

aku mulai merasa dingin, dan ketakutan.
beberapa penggal suara adzan terdengar dengan samar, berpadu suara hujan dan juga guntur yang menggelegar.

dadaku tergoncang.
merasa menyesal.
berisik dan juga kesepian.

aku kembali bersandar di tiang pendopo taman.
masih duduk, dengan memeluk kedua kakiku.
tanpa sadar sesekali hidungku mulai susah bernafas.

aku mencoba tertawa, tapi rasanya tidak bahagia.
tapi entah mengapa rasa sesak di dada itu berkurang secara perlahan.
aku menyesal, karena belum pernah mengucapkan "Sayang".

Senin, 28 September 2015

Catatan Kabut


Namaku kabut, aku tinggal di daerah terlintasnya garis katulistiwa (kalimantan) di samarinda lebih tepatnya, untuk saat ini udara dan cuaca disini sedang tidak stabil, setiap hari jalanan tertutup asap, hingga matahari pun tak mampu menampakkan dirinya.

Aku seorang mahasiswa salah satu universitas negeri di kota ini, tiap hari kami harus beraksi untuk membagikan masker sana sini.

Saat ini hari mulai terik, namun tak ada cahaya yang bisa memecah lapisan asap diatas sana, sehingga cuaca terasa panas namun seolah terlihat mendung, sambil duduk di trotoar ku lirik sebentar layar ponselku, jam digitalnya sudah menunjukkan pukul 14.00 sekejap aku memejamkan mataku yang kemudian dilanjutkan air mata menetes dari ujung kelopak matanya, bukan hanya menyerang pernafasan namun asap ini juga terasa perih di mata.

Beberapa menit berlalu, aku hanya duduk di trotoar yang bersebrangan dengan teman temanku beraksi, aku memang tidak begitu tertarik dengan hal hal semacam ini, namun yang membuatku tertarik adalah sesosok gadis yang sedang membagikan masker ke setiap pengguna jalan di ujung lampu merah sana, gadis yang selalu penuh semangat itu seolah olah menjadi magnet yang membuatku bergabung dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh kampus, sehingga tanpa sadar, akupun mulai menikmati semua kegiatan kegiatan ini.

“hobi amat ngelamun” sapanya sambil menepuk bahuku dengan agak berlari kecil kearahku

Aku hanya mampu tersenyum seperti biasa yang aku lakukan padanya, kamu sudah berteman sejak kita SD, kami juga selalu memiliki momen momen yang memang terlihat dingin, dan sebenarnya dia adalah satu satunya teman yang aku punya.
Namanya lolita, dia adalah teman satu universitas, satu kelas dan satu jurusan denganku, bukan hanya saat ini, sejak SD pun juga begitu, memang terdengar sedikit membosankan, namun kita sudah melewati ini seolah kebosanan itu tak pernah ada.

Aku dua tahun lebih tua dari lolita, namun keakraban yang terjalin sejak 14 tahun ini membuat kami seolah teman seumuran.

“malam ini ada acara gak?” tanya lolita dengan pandangan yang sama denganku, melihati motor yang berlalu lalang di lampu merah
“kayanya aku free” jawabku dengan nada sedikit acuh
“jalan yok?” tanyanya singkat sambil tangannya merogoh ponsel dikantong celana jeans yang sedang ia kenakan.

Aku hanya melirik sekilas kearah lolita yang seperti biasa, selalu sibuk dengan dunia maya, serta ponselnya.

“kemana?” tanyaku singkat
“sembarang aja, spesial deh ngedate kali ini kamu yang nentuin” sejenak dia mengangkat wajahnya dari arah layar ponsel untuk melemparkan senyum kepadaku

Aku hanya bisa tersenyum balik saat melihat wajah itu, wajah yang sudah tak asing bagiku, wajah yang sudah terekam jelas di memori otakku, bahkan wajah itu dapat terbayang nyata walaupun kupejamkan mataku.
Entah kenapa rasa acuhku seolah sirna begitu saja, dalam hati aku merasa bahagia dan tersenyum seolah aku sendiri tak faham dengan persahabatan kami yang sudah berlangsung 14 tahun ini, sebentar kulirikkan mataku pada lolita yang sedang sibuk dengan ponselnya lagi.

“nanti jam 7 malam yah, makan jagung bakar aja kita”
“ditraktirkan?”
“bayar sendiri” jawabku sambil tersenyum seolah serius tapi juga sedikit bercanda


“woy, ayo cepat pulang” teriak peter dari sebrang lampu merah.

Sambil sedikit bercanda kami mulai bangkit dari trotoar.

“ih, tadi yang dipanggil sama peter aku kan?” teriak lolita dengan wajah sedikt malu malunya
“mulai deh, susah memang penggemar rahasia nih” jawabku dengan nada sidik mengejek, namun tak kunjung mendapatkan respon dari lolita yang mulai tersenyum senyum sendiri.

Aku segera berlari sambil menepuk bahu lolita yang seolah secara lisan berkata “ayo kejar aku kalau bisa”
Kami segera berlari menuju motor yang sedang berbaris rapi diujung jalan itu.



- - -
“jangan lupa yah nanti jam 7” teriak lolita sambil menutup pagar dirumahnya
Selain sekolah kami sama selama 14 tahun, aku dan lolita juga bertetangga, rumah kami hanya bersekatkan dua rumah saja, tapi walaupun rumah kami dekat, namun kami jarang bisa bertemu atau bermain main saat dirumah, kami hanya bertemu biasanya saat di kampus saja, karena kesibukan kami dengan pekerjaan masing masing membuat kita menjadi tidak bisa saling bertemu di rumah.

Sudah beberapa bulan ini kami sibuk mengajar, lolita mengajar les tetangga tetangga di dekat rumah, sementara aku mengajar les di lembaga privat yang letaknya sedikit lebih jauh dari rumahku.
Namun hari sabtu malam ini kami sedang libur mengajar.

Sesampainya dirumah, ponselku bergetar pertanda ada pesan masuk

“kabut, tumben loh si peter bbm aku” tulisnya singkat
“mantan terus”
“ih, orang dia yang mulai duluan kok”
“tapi diladenin juga”
“kan kita harus menghormati”
“balikan sudah”
“enggak ah, dia aneh tau sekarang”
“hmm” jawabku mulai bingung harus balas apa
“tapi aku tetep sukaaaaaaaa”
“aku juga suka” balasku singkat
“ikut ikutan kamu mah”
“biar ikut ikutan kan aku serius, hehehe”
“yasudah aku juga suka, heheheh”

Perbincangan kami di pesan singkatpun terus berlanjut sampai waktu yang menyadarkan kami.



- - -
sudah 30 menit berlalu dari pukul 19.00, aku terduduk di motor sambil menunggu lolita keluar

“jam 19.30, agak telat yah?” tanyaku dengan nada sedikit menyindir
“hahaha, namanya juga cewe, pake jilbab itu harus dihayati, ayo mang kita berangkat”
Dengan sedikit tertawa kamipun mulai pergi meninggalkan halam rumah lolita
“jangan malam malam yah pulangnya” terdengar teriakan ibu lolita yang sedang asik nonton tivi didalam rumahnya
“iya bu, tenang saja” teriakku sambil memelankan laju motor yang mulai menjauhi rumahnya
“sebelum beli jagung kita beli es cream dulu yok di mall”
“tumben kabut mau nraktirrrrrr” teriak lolita sambil menepun nepuk bahuku.

Aku hanya bisa senyum senyum sendiri dengan tingkah lolita yang seperti anak kecil itu, entah kenapa akupun merasa begitu bahagia malam ini.

Perjalanan kami malam itu terasa begitu cepat berlalu, makan es cream, main main di kawasan bermain yang ada di mall, bercanda, tertawa, pokonya aku merasa bahagia.

“jadi beli jagungnya kan?” tanya lolita singkat sambil berjalan keluar dari area mall menuju parkiran
“ya jadilah” aku segera mengedarkan pandanganku untuk mecari tempat kami memarkirkan motor tadi
“ayo cepat” tambahku, meneriaki lolita yang sedang sibuk dengan ponselnya, sehingga jalannya menjadi sedikit pelan
“oke bos” jawabnya lagi dengan agak berlari

Setelahnya dia naik di motor, perlahan aku melaju kan motor menuju arah barat daya, suasana jalanan kota samarinda terlihat begitu ramai, ada banyak muda mudi yang sedang berlalu lalang dengan pasangannya masing masing, kami menyusuri jalanan yang ramai itu dengan suasana yang sedikit hening, kami melewati salah satu mall yang berada di sisi kiri kami, serta melewati beberapa lampu merah.

“lit” panggilku singkat sambil berusaha menoleh kebelang beberapa derajat saja
“ape? Kangen?” jawabnya yang kemudian diikuta tawa
“kukira kamu ketinggalan, kok gak ada suaranya”
“eh kita beli jagung dimana nih?”
“emmmm, gimana kalo dekat jembatan sini aja, biar gak terlalu jauh” aku menjawab dengan nada seperti sedang berfikir
“oke oke, biar nanti pulangnya gak terlalu jauh juga” tambah lolita

Setelah melewati lampu merah dan jembatan kecil di samping masjid, aku segera mengarahkan motorku untuk mencari tempat parkir.
Parkiran disini terlihat begitu padat, dan banyak juga berbagai pasangan dari yang muda hingga yang sudah berkeluarga menikmati makanan di sepanjang tepian sungai mahakam.

“eh eh, kita duduk sini aja” kata lolita singkat sambil melepas masker dan helemnya

Ditengah suasana kota samarinda yang sedikit berasap ini membuat kami semua selalu siap sedia dan terbiasa untuk memakai masker kemana mana

“aku pesan dulu yah?” teriakku pada lolita yang sudah duduk di meja agak jauh dari penjual jagung
“kabut, pesan 4 yah?” teriak lolita yang kemudian aku balas dengan anggukan sambil tersenyum padanya
Seusai memesankan jagung akupun bergegas ke meja tempat lolita duduk.
“hey” teriak seseorang sambil sedikit mendorong badanku
“eh, peter kamu kok bisa ada disini?” tanyaku dengan wajah yang sedikit bingung
“lolita gak bilang kalo aku juga kebetulan lagi jalan, dan mau ikut gabung deh sama kalian”
“hah” aku mulai gak faham dengan situasinya dan sedikit bingung
“woyy peter, kabut, cepet sini” teriak lolita memanggil kami berdua

Masih dengan sedikit kebingungan akupun berjalan menghampiri lolita.
Sesampainya di meja aku sedekit merasa kurang nyaman melihat kedekatan mereka.

“jadi lagi nostalgia ni ceritanya” tanyaku pada mereka dengan nada yang sedikit menyindir
“hahaha, enggak juga” jawab peter dengan raut muka agak malu malu
“tapi kalo dipikir pikir kita dulu jadian dan putusnya disini loh” tambah peter yang seketika merubah raut wajah lolita menjadi agak memerah

Sepertinya wajahku juga sedikit memerah, aku mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini, ada sesuatu yang sulit untuk kujelaskan seperti apa rasanya.

“siapa tau aja kita balikannya disini juga” timpal peter masih dengan nadanya yang percaya diri, dimana sontak membuat lolita terlihat makin malu malu.

Akupun hanya bisa tertawa, walau sebenernya aku sama sekali tidak merasa ingin tertawa, aku bahkan mulai gak faham aku harus ngapain di tengah tengah situasi kikuk seperti ini.
Sementara lolita dan peter terlihat asik ngobrol.
Ditengah kekikukan ini akupun merogoh ponselku hanya untuk mengecek media sosial yang aku sendiri tau, gak akan ada chat masuk atau yang lainnya, karena satu satunya temen chatku ya cuma lolita.

“eh, aku ambil jagungnya dulu deh ya” aku benar benar mulai gak tau harus berbuat apa

Lolita dan peterpun hanya mengangguk sambil melempar sedikit senyumnya pertanda dia menyetujui tindakanku.
Aku benar benar merasa gak nyaman dengan situasi ini, akupun menyadari dengan adanya sedikit kecemburu, aku juga sadar bahwa seiring berjalannya waktu rasa sayang untuk lolita itu muncul, dan tidak terpungkiri, sebenarnya alasan kami selalu satu sekolah itu karena aku sengaja mengikuti lolita, ini memang terlalu kekanak kanakan, tapi apaboleh buat, memang inilah yang sedang kualami, memang inilah kenyataan yang terjadi.

Sambil menunggu jagung akupun duduk dan menatap kosong kearah lolita dan peter yang terlihat mulai serius dibandingkan tadi.

Dengan perasaan yang gak karuan aku makin bingung harus berbuat apa, pertemanan selama 14 tahun ini seolah membuat kami berada di zona nyaman, akupun meras gak pantas kalo harus cemburu/mengatakan sayang kepada lolita. Namun apa boleh buat, memang inilah kenyataan yang kualami saat ini.

“ini jagungnya de” mas mas penjual jagung itu menyodorkan jagung serta minuman kepadaku.
“oke mas, berapa? Saya naro ini dulu yah?” aku bergegas ke meja untuk meletakkan jagung dan minumannya

Sambil melemparkan senyuman pada lolita dan peter aku langsung kembali untuk memberikan uangnya pada mas mas penjual jagung itu.
Suasana malam itu berlalu diluar apa yang sudah saya bayangkan, sesekali aku hanya bisa tertawa dengan sedikit dipaksakan, sampai akhirnya jam digital diponselku menunjukkan pukul 22.55 WITA.

“lolita ayo kita pulang” tegasku sambil melihati jam diponsel
“ayo dah, udah malam ini” sesegeranya lolita membereskan barang bawaannya yang hanya tas kecil dan helem serta maskernya
“kabut, aku juga mau pulang ni, lolita aku aja yang ngantar, kan kita searah juga pulangnya” sambil bangkit dari meja yang memang lesehan, peter menatapku seolah memintaku mengiyakan semua keinginannya.
“terserah lolitanya aja” sesaat aku merasa menyesal sudah berkata seperti itu, namun aku bisa apa? Batinku dalam hati
“gakpapa kan lit?” tanya peter seolah memaksa lolita yang kemudian lolita hanya tersenyum dan mengangguk.

Akupun bersikap sama, hanya bisa tersenyum sambil menyesali anggukan yang diberikan lolita

“kalo gitu aku duluan” sambil memasangkan helem dan masker aku bergegas menuju tempat dimana motorku terparkir

Seolah tak ada yang bisa kusalahkan lagi selain diriku sendiri, aku bisa apa? Aku harus gimana? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam kepalaku, pantaskah aku jatuh cinta? Tanyaku kembali.
Entah kenapa aku senyum senyum sendiri, merasa malu dengan kondisiku, merasa malu dengan diriku yang bahkan untuk jatuh cinta saja serasa gak mampu.

Kabut, kabut, apalah arti sebuah nama? Tanyaku dalam hati, pola fikirku mulai gak karuan.
Aku hanya sesosok tangguh yang terlihat oleh kejauhan mata, tapi seolah olah tak punya keberanian untuk muncul di hadapan langsung manusia.

Aku merasa diriku terlalu pengecut, dan terlalu sulit memahami diriku sendiri.

Yang jelas aku merasakan sesuatu yang sulit untuk kugambarkan, yang sulit untuk ku diskripsikan, dan yang jelas terlalu sulit untuk kulupakan.hmmm kulupakan.

Tanpa kusadari aku sudah berada di dekat rumah, ditengah tengah perasaanku yang gak karuan kuputuskan untuk merebahkan sejenak badanku di bangku yang tersusun dari papan di depan rumah lolita, dimana tempat ini biasa digunakan tetangga tetanggaku untuk bermain main gitar dan lain lain.

Tidak begitu lama suara motor peter terdengar sayup sayup, tanpa perduli aku tetap membaringkan badanku sambil memejamkan mata perlahan, berharap semua rasa, yah rasa cemburu ini bisa hilang dengan secepatnya.

Berkali kali kutarik nafas dan hembuskan, sampai akhirnya suara motor peter yang sempat berhenti sejenak mulai terdengar menjauh lagi pertanda dia sudah mengantarkan lolita kembali kerumahnya, aku masih terus berusaha memejamkan diri, berusaha membuang kepenatan yang seperti menumpuk dalah dadaku.

“banyak nyamuk disini”

Aku pun terkagetkan oleh suara itu dan sesegera mungkin membuka mata dan bangkit dari tidurku.

“kamu juga kenapa kesini?” tanyaku balik

Lolita hanya tersenyum senyum senatapku sambil melepaskan helemnya

“gak usah dilepas disini, cepet masuk sudah, malam malam gini produksi asapnya malah tinggi loh” dengan sedikit tertawa salting aku menyuruh lolite segera balik kerumahnya
 “kamu dari tadi juga gak maskeran biasa aja, gak usah lebay deh” lolita menjawab sambil membaringkan badannya.
“kabut kan dari asap, jadi kita temenan” aku menjawab seadanya lalu mengikuti lolita dan berbaring disampingnya

Suasana malam yang sunyi seolah membuat kami saling terdiam sejenak, hanya hembusan nafas kecil yang tertangkap oleh telingaku, tak ada suara jangkrik, ataupun hewan hewan malam lainnya
Sesekali aku hanya bisa menarik nafas besar, dengan tujuan agar kepenatan didadaku lekas berkurang

“peter ngajak aku balikan” dengan suaranya yang pelan lolita memecah kesinyian malam itu
“selamat” aku menjawab singkat
“tapi aku belum jawab”
“itu kan yang kamu tunggu tunggu selama ini”
“tapi gak tau kenapa rasanya aku belum bisa bilang IYA”
“nanti kalo gak cepet dibalas nyesel loh” aku sedikit tertawa dipaksakan, entah kenapa seolah olah diriku terus mendorong perbincangan ini, padahal justru aku sendirilah yang merasa sakit hati
“gak tau deh, aku jadi bingung”
“gak usah dibikin bingung, jalanin aja”

Udah malam loh ini nanti kamu dicariin ibu, aku terdengar seperti mengalihkan perbincangan dan segera bangkit, mengenakan masker dan meraih helemku.
Lolita masih belum bergerak dari pembaringannya
Kuulurkan tanganku pada lolita yang kemudian kubantu agar dia bangkit dari bangku yang terbuat dari susunan papan tersebut.
Kuletakkan kembali helemku yg ada ditangan dan segera meraih masker lolita untuk kupasangkan di mulutnya

“jangan dilepas dulu, biar dikira baru pulang” jelasku dengan suara yang sedikit kurang jelas karena mulutku terbungkus masker juga
Ku tatap lolita yang terlihat menatap dengan banyak beban didalamnya.

“kamu kenapa?” tanyaku singkat, yang hanya dibalas dengan tatapan sebentar saja oleh lolita
Entah bagaimana semuanya terjadi, wajahku mulai berada begitu dekat dengan wajah lolita.
Ya aku mendekatkan wajahku yang terbungkus masker kewajah lolita
Lolita sedikit menarik wajahnya kebelakang, walau sebenarnya bibir kami yang terbungkus masker itu sempat bersentuhan
Fikiranku tak karuan, aku juga merasa tak nyaman dengan situasi itu.
Lolita tak berani menatapku, aku bahkan tak faham dengan apa yang sedang difikirkan lolita saat ini

“aku cemburu” ungkapku seolah lega namun disisi lain merasa lebih tidak nyaman lagi

Lolita terlihat kaget dengan semua itu dan bergegas mengambil helem dan pergi pulang kerumahnya.
Dia membuka gerbang rumahnya tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya kepadaku yang masih berdiri dan menatap kosong lolita
Suasana perumahan ini benar benar sunyi, detak jantungku sepertinya sedang kurang stabil.
Aku tersenyum senyum sendiri, sambil memegang bibirku.

“Anganku sudah terbang terlalu jauh malam ini” batinku dalam hati

“udah malam mas, cepat tidur. Betah banget dimeja kerja” Sontak akupun kaget dan tersadar dari lamunanku.
Kembali kuarahkan pandanganku pada layar laptop yang berada tepat di hadapanku, sesekali kubaca lagi kata demi kata yang tertulis didalamnya

“ceritanya terlalu kekanak kanakan, narasinya terlalu cepat seolah sedang dikejar kejar polisi, sehingga situasi kurang tergambarkan dengan baik, dan hasilnya feel yang kurasakan kurang dapat dirasakan oleh pambaca, bertahun tahun fakum dari dunia sastra banyak mempengaruhi gaya bahasaku” aku terus membatin dengan maksud mengkritik diriku sendiri
“tapi apa boleh buat, seburuk bururknya tulisanku, gak akan bisa bener kalo aku gak terus berlatih kaya gini” batinku lagi menambahkan kritikan itu

“tolong jagakan anak anak, aku mau nyiapin susu dulu, jadi nanti malam biar gak repot lagi”
Aku yang masih asik dengan nostalgiaku depan laptop seolah acuh dengan suara teriakan teriakan itu

“mas......., mas kabut” teriaknya lagi memanggil manggil namaku

Sementara aku masih tersenyum senyum sendiri belum seutuhnya kembali dari lamunan
“iya sayang.....” jawabku singkat dan segera mematikan leptopku lalu bergegas menuju kekamar untuk menengok buah hatiku, lia dan ali. mereka adalah anak pertama sekaligus keduaku.
merekalah penyemangatku sejak 3 bulan lalu, mereka adalah kebahagiaanku, sekaligus penyempurna keluarga kecilku.

Aku bergegas menghampiri ranjang bayi yang berada tak jauh dari kasur tempatku biasa tidur, kukecup kedua kening anak anakku, menatap senyum mereka dalam lelap seolah memberikan kebahagiaan tersendiri untukku.

Dengan rasa bahagia yang kurasakan, segera kuhempaskan tubuhku di ranjang yang tak begitu jauh dari bayi kembarku.

Hidupku merasa sudah lengkap, bahkan untuk bekerja saja sekarang aku merasa begitu semangat dan bahagia.
Aku harus bekerja lebih keras untuk kedua anak dan istriku.

“sayang, lama banget nyiapin susunya....... lolita sayang” teriakku diiringi dengan senyum nakal hasil lamunanku sedari tadi.

Tak ada kebahagiaan yang berbanding dengan hari hariku saat ini, setiap hari terasa begitu berarti, bahkan satu persatu tingkah ali dan lia seolah momen momen yang seolah mustahil dapat aku rasakan, melihat senyum mereka, tawa meraka atau bahkan tangisan mereka, seolah dulu tak pernah aku membayangkan momen momen seperti ini dalam hidup.

“jangan bengong terus mas....” jawab lolita sembari menghampiriki dengan wajah dan suara yang tergambar begitu bahagia.

Senin, 22 Desember 2014

Jangan Hargai Kami

aku tinggal di sebuah gang yang sunyi, hanya ada beberapa tetangga yang kami miliki.
sehari hari hanya aku, ibu, nenek dan bapak ditemani TV.

malam ini suasana sangat sunyi, lampu listrik sedang mati. kebetulan daerah kami sedang dapat giliran mati listrik.
beginilah konsekuensi tinggal di kota rantau, suasana bising, panas, susah air serta listrikpun harus mati bergantian.
tapi semua akan tetap dijalani demi sesuap nasi dan uang di dunia ini.

perasaanku kembali gelisah, aku dan kedua orang tuaku habis bertengkar seharian tadi, seperti hari hari biasanya, selalu terjadi keributan atas dasar ego yang tak saling bisa di fahami.
mereka selalu beranggapan bahwa aku susah di atur dan tak tau diri, serta tak jarang mereka menyama nyamakan aku dengan bapak kandungku yang tak ku tau ada dimana saat ini.
yang mereka katakan memang benar, tapi apa tak ada kata kata lain yang harus mereka ucapkan selain memaki aku seperti bapak kandungku, sifat dia memang tak pantas untuk seorang bapak, tapi apa boleh buat? dia memang bapakku. dia yang melahirkanku, walaupun tidak ikut membesarkan dan membiayaiku. aku sebenarnya tak pernah ingin terlahir dari orang seperti itu. namun pada kenyataannya ini jalan hidupku.
dadaku masih berdegub kencang, air mataku masih terus keluar walaupun aku berusaha tetap tersenyum bak anak durhaka yang siap menerkam ibu dan ayah tirinya.
aku segera bangkit dari alas tidurku yang hanya tilam lipat. aku bahkan bingung harus berbuat apa, berulang kali ku pukul pukul dadaku. berharap agar batu yang seolah mengganjal di dalamnya dapat hilang.
segera kutiup cahaya lilin di hadapanku, dengan penuh harapan agar kegelapan dan suara suara nyanyian jangkrik dapat melepas beban yang mengganjal didada.

***
jawa timur, 2004

siang ini semua murid SDN 02 bersorak riang saat mendapatkan pengumuman bahwa guru guru harus mengadakan rapat kenaikan kelas.
pak boni terlihat menghampiri dan memukul lonceng sekolah yang terbuat dari besi tua di gantung di depan kantor guru.
serentak semua anak berhambur keluar area sekolah yang terbuka tanpa ada pagar disekelilingnya.

aku, hadi yang duduk di kelas 4 bergegas pergi melewati teman temannya yang sibuk menunggu sahabat masing masing untuk pulang bersama.
aku sebenarnya jenuh berada di sekolah ini, teman teman yang kebanyakan tetangga jarang mau berteman denganku, ada yang takut sama bapakku lah, karena kelakuan dan suaraku yang kaya cewek lah. aku bahkan tak faham dengan fikiran mereka, aku takut berada di antara mereka, dan aku lebih nyaman sendiri, tanpa ada yang menghina dan menyakiti.

dari kejauhan aku melihat kondisi rumah yang sepi, "mungkin aku pulang terlalu pagi" batinku dalam hati.
memang jarang aku pulang jam 8 pagi, kecuali jika sedang hari bebas setelah ujian kenaikan kelas seperti ini.
"sepertinya ibu lagi ngojek" tambahku dalam hati sambil berjalan kepintu belakang lewat samping rumah dan tanpa sengaja aku seperti melihat seorang lelaki di ruang tamu. ku dekatkan wajahku ke jendela rumah yang terbuat dari kaca, dan seolah terkaget sepertinya ibuku sedang terlonjak ke kursi sofa di samping om somat.
om somat hanyalah orang lain dalam keluarga kami, dulu dia pernah datang kerumahku sambil marah marah, karena beliau bilang bapakku pernah pinjam hutang darinya, namun sampai saat ini tak kunjung dibayar.
sejak hari itu aku sering melihat om somat datang kerumah untuk menagih hutang, namun tidak marah marah tapi malah terlihat akrab dengan ibuku.
begitu juga seperti yang kulihat dibalik kaca saat ini.
bukan hanya om somat, tapi masih banyak teman teman bapakku yang akrab dengan ibuku.
ada pak sidik, om jefri ataupun om ridwan.
terkadang salah satu dari mereka juga sering menginap dirumah saat bapakku datang, karena aku beberapa kali melihat salah satu dari mereka keluar rumahku saat menjelang subuh.
aku terkadang kesal saat melihat bapakku, beliu pulang kerumah tak lebih sebulan 2kali, dan setiap bapak datang hanya untuk membuat ribut dan bertengkar dengan ibuku.
aku yang masih berumur 10 tahun terkadang merasa sedih dengan kehidupan ini. aku merasa belum pantas memanggul beban seberat ini, aku merasa belum pantas anak seumuranku harus melihat keributan dan perkelahian mereka, aku juga merasa tak mampu harus dikucilkan para tetangga. yang bahkan aku sendiri tak tau salahnya diriku apa.
"AKU INGIN DIHARGAI, aku ingin dianggap seperti anak anak lainnya" terkadang hatiku seperti menjerit jerit saat merasa bosan dengan kehidupan ini, aku bosan menangisi hidup.

aku sontak tersadar dari lamunan  panjangku, "sudah 10 tahun berlalu, kenapa aku masih se cengeng ini" aku kembali bertanya tanya pada diriku.
kenapa aku begitu lemah, dan kapan kehidupan ini berubah?
perlahan aku mulai bangkit dari alas tidurku, dengan meraba raba di kegelapan malam ini aku menuju kamar nenek untuk menceritakan semua kegelisahan dan bayang bayang imajinerku.
dengan sedikit tersengal sengal dan suara sedikit bergetar serta isakan aku menceritakan semua, terlihat bayang bayang cemas dari nenekku yang terkena pancaran redup lilin di kamarnya.
dia seolah tau apa yang aku ceritakan, namun hanya diam saja.
"aku capek nek kalo terus begini" ucapku parau.
yang kemudian nenek memelukku sambil menepuk nepukkan tangannya pada punggungku.
"ada beberapa hal yang tidak kamu tau had" timpa nenekku sambil berbisik pelan dalam pelukannya.
"apa? apa lagi?" tanyaku merasa ingin tahu, namun disisi lain aku takut jika nenekku menyimpan hal yang sebenarnya tidak ingin aku ketahui.
"sudah lama aku ingin bicara ini sama kamu"
"bicara aja nek, aku gakpapa" jawabku sambil melepas perlahan pelukannya.
"apa kamu sayang bapakmu?"
"kenapa nenek tanya begitu? bagaimanapun juga dia yang melahirkanku, jadi walau aku benci dengannya tapi aku tetap merasa lebih nyaman dengannya, dibanding dengan ayah tiriku"
"lalu apa kau benci dengan ibumu?"
"kalau aku benci dengan dia, tak mungkin aku sekarang disini mengikutinya nek, aku hanya tak suka melihat dia di jadikan boneka oleh suami barunya ini"
"hush! kamu gak boleh ngomong gitu, kamu harus tau kalau ibumu itu rela melakukan apapun demi kamu. kamu ingat dengan apa yang kamu ceritakan tadi? tentang kedekatan om somat, pak sidik, jefri dan ridwan? ibumu terlihat akrab dengan mereka, namun sebenarnya dia sangat membenci mereka" nenekku perlahan memelukku kembali, pelukannya lebih erat di banding yang tadi, bahkan aku pun menjadi bingung, ada apa dengan nenek?

"mereka mereka itu adalah orang yang meminjami bapakmu uang had" lanjut nenek dengan nada yang mulai bergetar menahan amarah, dia masih memeluk tubuhku erat.
"aku tau itu nek" jawabku singkat
"mereka selalu datang untuk menagih uangnya, namun bapakmu sulit untuk membayar hutang itu, sampai sampai ibumu harus berusaha seakrab mungkin dengan mereka" nenek melepaskan pelukan lalu memegang kedua pundakku. dia menatapku seperti orang yang siap menerkamku. ada setetes air mata di sudut kelopaknya.
"jadi ibu harus mengakrabkan diri agar mereka tidak marah marah saat menagih hutang?" aku masih terus bertanya tanya
"bukan hanya itu, bahkan kenyataannya lebih buruk dari yang kamu fikirkan, ibumu tak sebatas mencoba akrab dengan mereka. namum ibumu memang harus bertindak seakrab mungkin, karena bapakmu membayar hutangnya dengan menjual ibumu pada mereka" nenek ku kemudian terdiam, titik titik air mata di ujung kelopaknya sekarang mulai mengalir.
sedangkan aku masih terdiam menatap nenekku lekat lekat.
dadaku kembali bergetar dan terasa ada yang menyumbat di dalamnya.
aku ingin berteriak untuk mengeluarkan sesuatu yang seperti menyumbat dadaku ini. tapi mulutku tak mampu berbuat apa apa.
"dan sekarang? ibumu disini menjadi boneka seperti yang kamu bilang, semata mata bukan karena dia bodoh atau pun tergila gila dengan bapak tirimu, namun dia melakukan ini atas dasar pengorbanannya untukmu, dia ingin kau sekolah tinggi, dia ingin agar kau tak hidup susah lagi, dia ingin agar kita bisa berteduh dan makan. hanya dengan jalan inilah dia bisa mendapatkan ini semua, hanya dengan bertindak bodoh dan menginjak injak harga dirinya" pandanganku mulai kosong, aku merasa bodoh dan tak ada gunanya.
otakku terlalu gelap dengan ego dan keras kepala. sampai aku tak tau pengorbanan ibuku menghancurkan masa depannya.
air mataku kembali keluar, dada dan nafasku makin tersengal sengal
aku merasa tak percaya dengan arti kehidupan ini.
"apa ini rasanya di hargai? apa ini rasanya di terima orang lain? dianggap ada oleh tetangga? di pandang sebagai manusia? tapi harus mengorbankan masa depannya, masa depan orang yang melahirkan dan merawatku. AKU SUDAH TAK BUTUH DI HARGAI, aku ingin sendiri"

"apakah semua yang berharga selalu ada nominalnya? andai aku tau akhirnya seperti ini, aku tak pernah merasa ingin dihargai, aku lebih baik di rendahkan dari pada bahagia karna menukar harga diri. jangan pernah hargai kami, karena kehidupan kami tak seharga nominal di bumi ini"

Rabu, 17 Desember 2014

TOPENG

namaku hadi wardoyo, 20 tahun, 118kg/187cm.
tinggi, besar, mukaku juga jelek, suaraku juga seperti perempuan. aku lebih sering dikenal sebagai seorang banci.
aku tinggal bersama ibu dan nenek ku, kami berasal dari jawa, 8 tahun lalu kami hijrah ke samarinda dengan meniggal kan rumah, kenangan dan bapakku.
sejak saat itu aku sudah tak pernah melihat wajahnya, tak pernah mendengar nama serta kabarnya.
aku bahkan tak tau harus berekspresi apa dengan ini semua.
aku terkadang kasihan dengan bapakku, tapi dialah yang menginginkan ini semua, entah atas dasar apa dia rela menyakiti ibuku, meninggalkan kami, dan memeras uang kami untuk bersenang senang dengan wanita lain di luar sana. dengan istri istri yang sudah tak terhitung jumlahnya.

tapi aku tak ambil pusing, aku tak mungkin menyiksa diriku dengan bayangan masa lalu.
sekarang aku tinggal dengan ibu nenek serta ayah tiriku, ayah tiri yang masih berstatus istri orang lain.
hubungan beliau dengan istrinya sudah tidak harmonis, sebagai seorang istri dia tak mau merawat ayah tiriku yang sakit sakitan, oleh sebab itulah dia melampiaskan perasaannya kepada ibuku, kepada orang yang rela merawatnya saat sakit, menemani saat sendiri, dengan imbalan agar ayah tiriku mau membiayai pendidikan serta kebutuhan sehari hari kami.
tapi, aku benci dia. aku tak suka dengan sikapnya. setelah membiayaiku sejak smp sampai aku lulus SMA/K dia seolah olah menjadikan semua itu sebagai hutang budi.
aku merasa dia tak adil, dia ingin agar kami di perdaya olehnya, mungkin ibu dan nenekku bisa melewati ini semua, tapi aku tidak.
aku orang yang memiliki ego tinggi dan keras kepala.
tak mudah untukku menerima semua perlakuannya, kami seolah olah menjadi orang yang bodoh di mata dia, tak punya otak dan selalu bertindak salah.
"hmm, apa aku anak durhaka? tak tau diri dan terima kasih? apa memang keluargaku pantas untuk diinjak injak?"
tapi apa boleh buat? hidup adalah ketentuan yang HARUS dijalani manusia, andai hidup ini memang pilihan, aku tak akan pernah memilih untuk jadi seperti ini.

aku sudah terbiasa sendiri, menangis dan terinjak injak.

sulit bagiku untuk bergaul dengan orang, apa yang dapat ku banggakan?

terkadang aku iri saat melihat kehidupan di luar sana.
mereka hidup dengan saling mengerti, saling memahami dan menghangatkan, walau terkadang ada cekcok didalamnya.
aku juga ingin punya banyak uang, aku lelah harus menjadi orang miskin, tak terpandang, selalu diremehkan bahkan seperti takpunya harga diri.
terkadang malu rasanya saat kita harus berjalan dengan keterbatasan, motor yang butut, tak pernah dapat uang saku, serta selalu merasa tak bisa apa apa.

hatiku terlalu lemah untuk seorang lelaki, aku memang pantas di sebut banci.

aku bahkan hanya mampu berteman dengan wanita, aku merasa lebih tenang saat bersama mereka, aku bahkan lebih cocok dengan egonya.
ekspektasiku terlalu bertentangan kepada seorang lelaki, mereka hanya bisa membuat onar, ngois dan emosional. aku merasa akan  salah jika aku berteman dengan mereka, aku butuh teman yang bisa meredan ego serta emosiku, yang mampu memberiku kasih sayang, memberi kehangatan serta memberi serpihan masa laluku yang tak kudapatkan.

aku selalu bermimpi bisa menjadi lelaki yang tampan, memiliki kekayaan dan kehangatan dalam keluarganya.
tapi aku hanya bisa melampiaskan semua itu dalam tulisan, aku dapat melakukan apa yang aku mau, apa yang aku inginkan.

aku lelah harus hidup seperti ini, aku lelah harus memakai topeng dan menyembunyikan semua kenyataan yang ada.
salahkah jika aku terus memakai topeng ini? aku ingin teman, sahabat, keramaian, keluarga dan cinta.
tapi apa aku pantas mendapatkannya?

mungkin akan tiba, suatu saat aku meninggalkan topengku, membiarkan orang lain melihat kebenaranku, keapaadaanku, dan dapat menerimaku.

aku tak pernah memilih hidup seperti ini.
aku tak pernah berkeinginan untuk terlahir didunia ini.
tapi, aku juga tak pernah menyesali kenyataan yang sudah terjadi.
aku tak akan pernah menyerah dengan keadaan.

aku akan terus menjalani semua ini, sebagai seorang HADI.